Senin, 09 April 2018

Antara Inggris dan Belanda

Ternate, 1579
     Kapal dagang akhirnya tertambat di pelabuhan pulau. Suasana fajar pelabuhan gelap dan dingin. Matahari belum menampakan sinarnya. Kabut-kabut tipis memenuhi pelabuhan. Bendera kebangsaan Inggris berkibar diterpa angin pagi. Salah satu kelasi akhirnya menarik ramp door setelah tali-temali kapal tertambat kuat di pelabuhan. Aku melangkah turun.
     “Kapten Francis Drake,” seseorang menyambutku di bawah. Dilihat dari penampilannya sepertinya ia orang pribumi. Aku tidak mengenal orang ini.   
     Rekanku, Thomas Cavendish berjalan di belakangku. Ia tersenyum lebar melihat si orang pribumi. “Ah, Abel! Kau sudah menunggu lama?” tanyanya.
Abel hanya tersenyum dan menggeleng, “baru beberapa menit sir Thomas. Kemarilah, barang yang kau pesan sudah disiapkan dalam gudang itu.” Abel menunjuk ke salah satu bangunan kayu tak jauh dari sini. Karena suasana pagi yang masih gelap, bangunan itu jadi tampak menyeramkan.
Aku menatap Thomas, meminta penjelasan. “Ah, Francis, kenalkan ini Abel, orang yang kuceritakan padamu waktu itu. Dia yang menyiapkan barang-barang pesanan kita.” Abel mengangguk penuh kehormatan padaku. Untuk seorang pribumi ia tampak sangat beradab. Bahasa inggrisnya juga amat fasih.
Tanpa menunda-nunda waktu lagi, kami bertiga ditemani beberapa kelasi kapal menuju gudang yang ditunjuk oleh Abel. Saat sampai Abel menyalakan lampu minyak untuk penerangan. Gudang itu dipenuhi dengan puluhan barel-barel dan karung-karung goni. Semuanya penuh terisi penuh.
Abel membuka salah satu karung goni. Mataku langsung berbinar melihat apa yang ada dalam karung. Isinya adalah sesuatu yang kami cari selama ini. Rempah-rempah. Aku meraup rempah dalam karung tersebut. Thomas melakukan hal yang sama. Ia tersenyum amat lebar. “Oh, orang-orang India itu benar. Tempat ini kaya akan rempah-rempah, dan lagi,” Thomas menundukan kepalanya, mengenduskan aroma rempah dalam karung, “Ini kualitas terbaik!”
Akhirnya transaksi dilaksanakan. Kelasi kapal mengangkut berkarung-karung rempah ke dalam kapal. “Ratu Elizabeth akan senang dengan ini.”

India, beberapa minggu kemudian
Aku sedang menulis beberapa catatan di ruanganku di kantor EIC (East India Company) di Kalkuta saat seseorang mengetuk pintu ruangan. “Masuk,” kataku. Lalu Thomas muncul dari balik pintu. Ditangannya, ia menggenggam secarik amplop. Aku melihat logo yang tertera pada amplop itu. Logo Pemerintahan Inggris.
“Dari Ratu Elizabeth,” Kata Thomas, ia duduk di kursi di seberangku. Aku segera menghentikan aktivitas menulisku. “Sang ratu menyukai rempah-rempah yang kita bawa dari Nusantara beberapa minggu yang lalu, dan ia membuat surat keputusan ini.” Thomas memberikan surat itu kepadaku. Aku membacanya. Dalam surat itu Ratu Elizabeth menuliskan ucapan terima kasihnya kepadaku dan Thomas. Ia juga memberikan titah untuk memperluas wilayah pelayaran nasional bangsa inggris, beserta perdagangannya. Sang ratu menuliskan hak istimewa untuk EIC India untuk mengatur perdagangan di wilayah Asia, khususnya di Nusantara.
Aku tersenyum lebar. Ini menjadi kebanggaan tersendiri untukku. Aku segera bangkit dari kursiku dan mengenakan topiku. “Kita berangkat sekarang Thomas.”
“Kemana?”
“Ke Nusantara, memperluas wilayah dagang kita!”

Nusantara, 25 tahun kemudian.
     Tahun 1604, aku telah berhasil memperluas wilayah dagang EIC. Saat ini setidaknya sudah ada enam kantor cabang EIC di Nusantara. Di Ambon, Jayakarta, Banjar, Makassar, Jepara dan Aceh. Pangkatku dan Thomas sudah berkali-kali dinaikkan. Kami juga beberapa kali menerima pujian dari Ratu Elizabeth sendiri.
       Hanya saja sekarang kantor-kantor dagang ini sedang mengalami masalah.  EIC sudah kehilangan beberapa sumber penghasil rempah-rempah. Pihak Belanda terlalu menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Dan mereka tidak mau berbagi dengan Inggris. Mereka yang merebut sumber rempah milik Inggris. Sayangnya mereka kuat. Jumlah pasukan Belanda di Nusantara juga lebih banyak daripada jumlah tentara Inggris.
      Beberapa hari yang lalu, sebuah surat perintah datang dari Gubernur Jenderal Lord. Isinya adalah perintah untuk merebut kembali sumber rempah milik Inggris, juga menaklukan milik Belanda. Kedatangan surat itu disertai oleh tambahan jumlah pasukan Inggris dan beberapa senjata tambahan.
        Hari ini, pasukan Inggris siap untuk merebut kembali sumber rempah kami.
    Thomas keluar ruangan dengan seragam prajurit, lengkap dengan senapan di gendongannya. “Kau ikut ke medan tempur Thom?” Tanyaku. Thomas mengangguk mantap.
       “Kau sendiri tidak ikut?” Aku hanya menggeleng. Thomas mengedikkan bahunya lalu melenggang pergi ke arah pasukan.
        “Bawakan aku kemenangan Thom!”
        Thomas menoleh ke belakang dengan senyuman percaya dirinya, “Pasti!”
       
       Lepas tengah hari perasaanku tidak enak. Belum ada satupun prajurit yang kembali. Padahal mereka seharusnya sudah kembali sejak satu jam yang lalu. Sampai langit mulai kemerahan, pasukan belum juga kembali. Aku mulai cemas. Dalam hati aku mendoakan keselamatan Thomas dan pasukan.
      Lalu datanglah kabar itu. Salah seorang prajurit datang dengan luka parah di tubuhnya. Ia sempat mengatakan bahwa pasukan Inggris dikepung sebelum akhirnya jatuh pingsan. Aku geram. Tanpa pikir panjang aku segera mengambil senapan lalu memimpin pasukan yang tersisa ke lokasi tempur.
     Di lokasi aku melihat ada beberapa prajurit Inggris di jalanan. Semuanya sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh berlubang akibat peluru. Aku meringis melihatnya, tapi aku bersyukur tidak ada Thomas di antara mayat-mayat itu.
     Aku menyusuri sekitar, mencari tanda-tanda keberadaan Thomas dan yang lainnya. Tiba-tiba suara tembakan pecah diudara. Disusul suara erangan yang memilukan. Jantungku berdegup lebih kencang. Keringat dingin bercucuran. Itu tadi suara Thomas.
      “Thomas!” Aku segera berlari ke sumber suara tembakan tersebut. Asalnya dari dalam gang di tepi jalan. Aku memosisikan senapanku. Bersiap-siap untuk menembak. Di ujung gang, aku bisa melihat tubuh Thomas terkulai lemah. Darah mengucur deras dari perutnya. Di dekatnya ada seorang prajurit berseragam belanda. Kutarik pelatuk senapanku. Prajurit Belanda itu juga mengarahkan tembakan ke arahku, tetapi peluruku lebih cepat dari gerakannya. Alhasil timah panas melubangi dada si prajurit, ia langsung jatuh dan tak bergerak lagi.
      “Thomas,” Aku langsung berlutut di sampingnya. Ia terbatuk, darah segar mengalir dari mulutnya. “Thom, bertahanlah.”
     Aku menantikan prajurit lainnya datang dan membantuku membopong Thomas tapi mereka tidak kunjung datang. Samar-samar aku mendengar baku tembak dari arah kedatanganku. Sepertinya prajurit lainnya juga sedang kesulitan.
      Tiba-tiba Thomas menggenggam tanganku. Aku menoleh lagi padanya. Wajah Thomas dipenuhi oleh luka. Darah segar terus mengalir dari bibirnya. “Ma-af ya, aku tidak... bi-sa membawakan ke-kemenangan,” Thomas terbata.
      “Jangan bicara dulu Thomas, kau harus bertahan,” aku mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Tetapi Thomas tidak menghiraukan perkataanku, ia tetap melanjutkan omongannya.
     “Tetapi... a-ku yakin, suatu saat nanti kita akan menang Fran... Bukan sekarang, mu-mungkin kita tidak akan hidup untuk melihatnya, ta-pi aku yakin kita akan menang...” Napas Thomas semakin tersengal, genggaman tangannya mulai mengendur. Perlahan kelopak matanya bergerak turun.
      Aku panik, “Thom, bangun, kau harus tetap terjaga. Thomas!” Sia-sia, Thomas tetap menutup matanya, dan tidak pernah membukanya lagi, meninggalkanku sendirian di gang sempit gelap di tengah medan tempur.

18 September 1811
       Sudah dua ratus tahun berlalu. Thomas terlahir kembali ke dunia ini. Mungkin bukan Thomas yang sama dengan yang kukenal. Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Thomas Stamford Rafles. Orang itu dengan berani menggempur pasukan-pasukan Belanda dan mengambil alih daerah kekuasaan Belanda di Nusantara. Dan Thomas benar, bangsa Inggris akhirnya menang.
      Hari ini, 18 September 1811, di sebuah ruangan besar, orang-orang dari pihak Inggris dan Belanda berkumpul. Mereka menandatangani sebuah kesepakatan besar yang dikenal dengan nama Perjanjian Kapitulasi Tuntang. Isi perjanjian itu adalah bahwa Belanda harus menyerahkan seluruh daerah jajahannya di Nusantara kepada Inggris.
     Pihak pribumi sendiri tidak keberatan dengan hal ini. Mereka sejak awal membenci kedatangan Belanda. Mereka malah ikut membantu menggempur pasukan Belanda waktu itu. Inggris juga ikut membantu Nusantara. Inggris memperbaiki sistem pemerintahan Jawa, membantu perbaikan bidang keuangan, serta menghapuskan perbudakan di Nusantara.
      Sayangnya, aku sudah tidak ada disana lagi saat Inggris menang. Sudah dua ratus tahun lamanya. Kini, aku hanya bisa mengawasi dari tempat yang jauh...
Tamat


Author’s Note: Cerita ini hanya cerpen karangan penulis yang dikembangkan dari sejarah masuknya Inggris ke Indonesia http://www.sejarawan.com/159-sejarah-masuknya-bangsa-inggris-ke-indonesia.html                                                                     Francis Drake dan Thomas Cavendish memang orang Inggris pertama yang datang ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah tetapi kisah pertempuran tadi adalah fiktif. Thomas sendiri meninggal pada tahun 1592 di Samudera Atlantik sedangkan Francis Drake menyusul pada 1596.