Ternate, 1579
Kapal dagang akhirnya tertambat di
pelabuhan pulau. Suasana fajar pelabuhan gelap dan dingin. Matahari belum
menampakan sinarnya. Kabut-kabut tipis memenuhi pelabuhan. Bendera kebangsaan
Inggris berkibar diterpa angin pagi. Salah satu kelasi akhirnya menarik ramp
door setelah tali-temali kapal tertambat kuat di pelabuhan. Aku melangkah
turun.
“Kapten Francis Drake,” seseorang
menyambutku di bawah. Dilihat dari penampilannya sepertinya ia orang pribumi.
Aku tidak mengenal orang ini.
Rekanku, Thomas Cavendish berjalan di belakangku. Ia tersenyum lebar melihat si orang pribumi. “Ah, Abel! Kau sudah menunggu lama?” tanyanya.
Rekanku, Thomas Cavendish berjalan di belakangku. Ia tersenyum lebar melihat si orang pribumi. “Ah, Abel! Kau sudah menunggu lama?” tanyanya.
Abel hanya tersenyum dan menggeleng, “baru beberapa
menit sir Thomas. Kemarilah, barang yang kau pesan sudah disiapkan dalam
gudang itu.” Abel menunjuk ke salah satu bangunan kayu tak jauh dari sini.
Karena suasana pagi yang masih gelap, bangunan itu jadi tampak menyeramkan.
Aku menatap Thomas, meminta penjelasan. “Ah,
Francis, kenalkan ini Abel, orang yang kuceritakan padamu waktu itu. Dia yang
menyiapkan barang-barang pesanan kita.” Abel mengangguk penuh kehormatan
padaku. Untuk seorang pribumi ia tampak sangat beradab. Bahasa inggrisnya juga
amat fasih.
Tanpa menunda-nunda waktu lagi, kami bertiga
ditemani beberapa kelasi kapal menuju gudang yang ditunjuk oleh Abel. Saat sampai
Abel menyalakan lampu minyak untuk penerangan. Gudang itu dipenuhi dengan
puluhan barel-barel dan karung-karung goni. Semuanya penuh terisi penuh.
Abel membuka salah satu karung goni. Mataku
langsung berbinar melihat apa yang ada dalam karung. Isinya adalah sesuatu yang
kami cari selama ini. Rempah-rempah. Aku meraup rempah dalam karung tersebut.
Thomas melakukan hal yang sama. Ia tersenyum amat lebar. “Oh, orang-orang India
itu benar. Tempat ini kaya akan rempah-rempah, dan lagi,” Thomas menundukan
kepalanya, mengenduskan aroma rempah dalam karung, “Ini kualitas terbaik!”
Akhirnya transaksi dilaksanakan. Kelasi kapal
mengangkut berkarung-karung rempah ke dalam kapal. “Ratu Elizabeth akan senang
dengan ini.”
India, beberapa minggu kemudian
Aku sedang menulis beberapa catatan di ruanganku di
kantor EIC (East India Company) di Kalkuta saat seseorang mengetuk pintu
ruangan. “Masuk,” kataku. Lalu Thomas muncul dari balik pintu. Ditangannya, ia
menggenggam secarik amplop. Aku melihat logo yang tertera pada amplop itu. Logo
Pemerintahan Inggris.
“Dari Ratu Elizabeth,” Kata Thomas, ia duduk di
kursi di seberangku. Aku segera menghentikan aktivitas menulisku. “Sang ratu
menyukai rempah-rempah yang kita bawa dari Nusantara beberapa minggu yang lalu,
dan ia membuat surat keputusan ini.” Thomas memberikan surat itu kepadaku. Aku membacanya.
Dalam surat itu Ratu Elizabeth menuliskan ucapan terima kasihnya kepadaku dan
Thomas. Ia juga memberikan titah untuk memperluas wilayah pelayaran nasional
bangsa inggris, beserta perdagangannya. Sang ratu menuliskan hak istimewa untuk
EIC India untuk mengatur perdagangan di wilayah Asia, khususnya di Nusantara.
Aku tersenyum lebar. Ini menjadi kebanggaan
tersendiri untukku. Aku segera bangkit dari kursiku dan mengenakan topiku. “Kita
berangkat sekarang Thomas.”
“Kemana?”
“Ke Nusantara, memperluas wilayah dagang kita!”
Nusantara, 25 tahun kemudian.
Tahun 1604, aku telah
berhasil memperluas wilayah dagang EIC. Saat ini setidaknya sudah ada enam
kantor cabang EIC di Nusantara. Di Ambon, Jayakarta, Banjar, Makassar, Jepara
dan Aceh. Pangkatku dan Thomas sudah berkali-kali dinaikkan. Kami juga beberapa
kali menerima pujian dari Ratu Elizabeth sendiri.
Hanya saja sekarang kantor-kantor
dagang ini sedang mengalami masalah. EIC
sudah kehilangan beberapa sumber penghasil rempah-rempah. Pihak Belanda terlalu
menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Dan mereka tidak mau berbagi
dengan Inggris. Mereka yang merebut sumber rempah milik Inggris. Sayangnya mereka
kuat. Jumlah pasukan Belanda di Nusantara juga lebih banyak daripada jumlah
tentara Inggris.
Beberapa hari yang lalu, sebuah surat
perintah datang dari Gubernur Jenderal Lord. Isinya adalah perintah untuk
merebut kembali sumber rempah milik Inggris, juga menaklukan milik Belanda.
Kedatangan surat itu disertai oleh tambahan jumlah pasukan Inggris dan beberapa
senjata tambahan.
Hari ini, pasukan Inggris siap untuk
merebut kembali sumber rempah kami.
Thomas keluar ruangan dengan seragam
prajurit, lengkap dengan senapan di gendongannya. “Kau ikut ke medan tempur
Thom?” Tanyaku. Thomas mengangguk mantap.
“Kau sendiri tidak ikut?” Aku hanya
menggeleng. Thomas mengedikkan bahunya lalu melenggang pergi ke arah pasukan.
“Bawakan aku kemenangan Thom!”
Thomas menoleh ke belakang dengan
senyuman percaya dirinya, “Pasti!”
Lepas tengah hari perasaanku tidak enak. Belum ada satupun prajurit yang kembali. Padahal mereka seharusnya sudah kembali sejak satu jam yang lalu. Sampai langit mulai kemerahan, pasukan belum juga kembali. Aku mulai cemas. Dalam hati aku mendoakan keselamatan Thomas dan pasukan.
Lalu datanglah kabar itu. Salah seorang
prajurit datang dengan luka parah di tubuhnya. Ia sempat mengatakan bahwa
pasukan Inggris dikepung sebelum akhirnya jatuh pingsan. Aku geram. Tanpa pikir
panjang aku segera mengambil senapan lalu memimpin pasukan yang tersisa ke
lokasi tempur.
Di lokasi aku melihat ada beberapa prajurit
Inggris di jalanan. Semuanya sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh
berlubang akibat peluru. Aku meringis melihatnya, tapi aku bersyukur tidak ada
Thomas di antara mayat-mayat itu.
Aku menyusuri sekitar, mencari
tanda-tanda keberadaan Thomas dan yang lainnya. Tiba-tiba suara tembakan pecah
diudara. Disusul suara erangan yang memilukan. Jantungku berdegup lebih
kencang. Keringat dingin bercucuran. Itu tadi suara Thomas.
“Thomas!” Aku segera berlari ke sumber
suara tembakan tersebut. Asalnya dari dalam gang di tepi jalan. Aku memosisikan
senapanku. Bersiap-siap untuk menembak. Di ujung gang, aku bisa melihat tubuh
Thomas terkulai lemah. Darah mengucur deras dari perutnya. Di dekatnya ada seorang
prajurit berseragam belanda. Kutarik pelatuk senapanku. Prajurit Belanda itu
juga mengarahkan tembakan ke arahku, tetapi peluruku lebih cepat dari
gerakannya. Alhasil timah panas melubangi dada si prajurit, ia langsung jatuh
dan tak bergerak lagi.
“Thomas,” Aku langsung berlutut di
sampingnya. Ia terbatuk, darah segar mengalir dari mulutnya. “Thom,
bertahanlah.”
Aku menantikan prajurit lainnya datang
dan membantuku membopong Thomas tapi mereka tidak kunjung datang. Samar-samar
aku mendengar baku tembak dari arah kedatanganku. Sepertinya prajurit lainnya
juga sedang kesulitan.
Tiba-tiba Thomas menggenggam tanganku.
Aku menoleh lagi padanya. Wajah Thomas dipenuhi oleh luka. Darah segar terus
mengalir dari bibirnya. “Ma-af ya, aku tidak... bi-sa membawakan ke-kemenangan,”
Thomas terbata.
“Jangan bicara dulu Thomas, kau harus bertahan,”
aku mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Tetapi Thomas tidak
menghiraukan perkataanku, ia tetap melanjutkan omongannya.
“Tetapi... a-ku yakin, suatu saat
nanti kita akan menang Fran... Bukan sekarang, mu-mungkin kita tidak akan hidup
untuk melihatnya, ta-pi aku yakin kita akan menang...” Napas Thomas semakin
tersengal, genggaman tangannya mulai mengendur. Perlahan kelopak matanya
bergerak turun.
Aku panik, “Thom, bangun, kau harus
tetap terjaga. Thomas!” Sia-sia, Thomas tetap menutup matanya, dan tidak pernah
membukanya lagi, meninggalkanku sendirian di gang sempit gelap di tengah medan
tempur.
18 September 1811
Sudah dua ratus tahun berlalu. Thomas
terlahir kembali ke dunia ini. Mungkin bukan Thomas yang sama dengan yang
kukenal. Orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Thomas Stamford Rafles.
Orang itu dengan berani menggempur pasukan-pasukan Belanda dan mengambil alih
daerah kekuasaan Belanda di Nusantara. Dan Thomas benar, bangsa Inggris
akhirnya menang.
Hari ini, 18 September 1811, di sebuah
ruangan besar, orang-orang dari pihak Inggris dan Belanda berkumpul. Mereka
menandatangani sebuah kesepakatan besar yang dikenal dengan nama Perjanjian
Kapitulasi Tuntang. Isi perjanjian itu adalah bahwa Belanda harus menyerahkan
seluruh daerah jajahannya di Nusantara kepada Inggris.
Pihak pribumi sendiri tidak keberatan
dengan hal ini. Mereka sejak awal membenci kedatangan Belanda. Mereka malah
ikut membantu menggempur pasukan Belanda waktu itu. Inggris juga ikut membantu
Nusantara. Inggris memperbaiki sistem pemerintahan Jawa, membantu perbaikan
bidang keuangan, serta menghapuskan perbudakan di Nusantara.
Sayangnya, aku sudah tidak ada disana
lagi saat Inggris menang. Sudah dua ratus tahun lamanya. Kini, aku hanya bisa
mengawasi dari tempat yang jauh...
Tamat
Author’s
Note: Cerita ini hanya cerpen karangan penulis yang
dikembangkan dari sejarah masuknya Inggris ke Indonesia http://www.sejarawan.com/159-sejarah-masuknya-bangsa-inggris-ke-indonesia.html Francis Drake dan Thomas Cavendish
memang orang Inggris pertama yang datang ke Nusantara untuk mencari
rempah-rempah tetapi kisah pertempuran tadi adalah fiktif. Thomas sendiri
meninggal pada tahun 1592 di Samudera Atlantik sedangkan Francis Drake menyusul
pada 1596.