Kamis, 02 Mei 2019

Sejarah Perang Dingin Setelah Berakhirnya Perang Dunia II



Fadhli M. Adnan
XI-IPS-1
2600007
Perang Dunia II atau yang sering disingkat PDII adalah salah satu perang terbesar sekaligus paling mematikan sepanjang sejarah umat manusia. Perang ini melibatkan banyak sekali negara-negara di dunia, termasuk dua negara besar adidaya, Amerika dan Rusia. Secara umum, Perang Dunia II merupakan perang antara dua kekuatan aliansi militer yang terbentuk saat itu, yaitu, blok Sekutu, yang terdiri atas Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet, dan blok Poros, yang terdiri dari Jerman, Jepang, dan Italia.
Dengan perang yang begitu dahsyat dan luas, peperangan yang berlangsung selama sekitar enam tahun ini tentu menimbulkan dampak yang besar bagi dunia. Setelah perang dimenangkan oleh Sekutu, banyak perubahan yang terjadi di bidang politik, ekonomi, dan sosial di seluruh negara-negara dunia.
Pasca perang, banyak negara-negara besar seperti Inggris dan Perancis yang kehilangan hegemoni—dominasi kepemimpinan—mereka di dunia internasional. Akibat dari hal ini, banyak dari negara-negara besar yang bersaing untuk memperebutkan hegemoni untuk menjadi negara yang paling berkuasa di dunia. Maka muncullah dua kekuatan negara adikuasa: Amerika Serikat, yang kuat secara material, dan Uni Soviet, yang kuat secara psikologis.
Kedua negara besar tersebut saling bersaing untuk mengambil alih hegemoni dunia dengan cara menanamkan banyak pengaruh dan ideologinya di berbagai negara di dunia. Dampak yang terjadi adalah munculnya dua kelompok negara, yakni Blok Timur dan Blok Barat.
Ketegangan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat juga menimbulkan perang baru yang dikenal dengan istilah Perang Dingin. Disebut demikian karena tidak adanya keterlibatan militer secara langsung pada perang ini. Namun kedua negara tersebut sama-sama memiliki kekuatan nuklir sehingga menimbulkan ketegangan yang tinggi antara dua negara besar ini.
Alih-alih peperangan fisik, perang yang terjadi adalah berupa perang ideologi. Kedua negara besar ini memiliki dua ideologi yang saling bertentangan, yakni liberalis-kapitalis dan sosialis-komunis. Amerika Serikat dengan ideologi liberalis-kapitalis ini lebih mengedepankan kebebasan individual. Sementara itu, sosialis-komunis yang dicetuskan oleh Uni Soviet lebih menginginkan masyarakat yang bersatu untuk kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.
Sebelum perang, Amerika dan Soviet juga membentuk pakta pertahanan untuk saling mengimbangi kekuatan lawan. Amerika Serikat di barat membentuk North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara. Sementara Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa yang di dalamnya beranggotakan Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania.
Awal Perang Dingin ditandai dengan dibangunnya Tembok Berlin yang juga dikenal sebagai Tirai Besi. Tembok ini membagi dua wilayah Jerman menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Tak hanya membelah Jerman, tembok ini juga membelah Eropa menjadi dua ideologi. Kapitalis dan Komunis.
Inti dari Perang Dingin sendiri adalah Uni Soviet ingin agar paham Komunisme menyebar sampai ke seluruh dunia. Sementara Amerika Serikat ingin untuk menekan pengaruh paham ini sampai sekecil-kecilnya.
Selama terjadinya perang, Uni Soviet menyebarkan agen-agen intelijennya ke seluruh dunia untuk menanamkan paham Komunisme di berbagai belahan dunia. Alhasil, negara-negara di dunia pecah menjadi dua kubu. Satu komunis dan satu kapitalis. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak kerusuhan dan pemberontakan di berbagai negara karena tidak bisa menyatunya golongan yang menganut komunisme dengan golongan Kapitalisme.
Di Hungaria, terjadi pemberontakan melawan gerakan komunisme. Sebaliknya, di Kuba dan China terjadi pemberontakan oleh para penganut komunis. Di China bahkan terbentuk Tirai Bambu, versi Asia dari Tirai Besi yang membagi Republik Rakyat China yang menganut Komunis dengan negara-negara yang anti-komunis. China juga sempat beradu konflik dengan Uni Soviet sendiri akibat adanya perbedaan penafsiran ajaran Marxis-Leninisme.
Perang Dingin juga hampir membawa dunia kepada perang nuklir akibat adanya krisis rudal antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Hal ini diakibatkan Amerika menaruh balistik rudalnya di Italia dan Turki yang mampu menjangkau Moskow. Sebagai balasannya, Uni Soviet menaruh rudalnya di Kuba. Tapi pada akhirnya Amerika dan Uni Soviet masing-masing bernegosiasi dan memutuskan untuk menarik kembali rudalnya dari Italia, Turki, dan Kuba.
Perang Dingin berakhir pada akhir abad ke dua puluh. Saat itu kondisi negara-negara dunia mulai membaik. Konflik-konflik berangsur-angsur mereda. Amerika Serikat dan Uni Soviet menandatangani perjanjian SALT I dan SALT II yang didalamnya berisi kesepakatan bagi kedua negara untuk mengurangi kekuatan militer mereka. Kedua negara ini kemudian melakukan dialog intensif yang berlokasi di Malta dan mendeklarasikan bahwa Perang Dingin telah berakhir.




Sumber