Judul: Ceros dan Batozar ; Komet ;
Komet Minor
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT. Gramedia
Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018; 2019
Jumlah Hal: 376; 384; 376
Selamat pagi, siang, dan malam untuk para pembaca
dimanapun kalian berada. Pada artikel kali ini, saya akan
menuliskan sebuah resensi dari novel karangan penulis terkenal asal Indonesia,
serial novel Bumi. Tepatnya tiga buku terbarunya: Ceros dan Batozar, Komet, dan
Komet Minor.
Serial Bumi merupakan sebuah novel serial yang
dikarang oleh Tere Liye. Sekilas tentang penulisnya, Tere Liye merupakan salah
seorang novelis terfavorit di Indonesia. Ia telah menerbitkan banyak karya yang
beberapa diantaranya masuk ke dalam kategori best seller. Satu dua karyanya bahkan ada yang diadaptasi menjadi
film layar lebar.
Buku-buku yang ditulis oleh Tere
Liye amat beragam genrenya. Saya merasa bahwa Tere Liye bisa menuliskan cerita
dengan tema apapun. Sejauh ini, dari puluhan novelnya yang sudah diterbitkan,
Tere Liye berhasil menerbitkan karya-karya fantastis dengan berbagai genre seperti politik, ekonomi, kehidupan,
kekeluargaan, cinta, science fiction,
fantasi, dan yang lainnya. Untuk buku bergenre fantasi, salah satunya adalah
serial Bumi ini.
Keseluruhan serial Bumi menceritakan
tentang 3 orang sahabat dalam petualangan mereka mengarungi berbagai klan di
dunia paralel. Raib bisa menghilang, Seli bisa mengeluarkan petir, dan Ali bisa
berubah menjadi beruang raksasa, meski akhirnya Ali bisa melakukan apa saja
berkat kejeniusannya.
Dalam tiap petualangan mereka di
empat buku pertama, ketiga sahabat remaja ini selalu dihadapkan dengan
tokoh-tokoh penjahat yang ingin merusak keseimbangan dunia paralel. Tamus.
Fala-Tara-Tana IV. Sekretaris Dewan Kota Klan Bintang. Berkat kerjasama tim
yang kompak, semangat pantang menyerah, dan sikap saling tolong-menolong,
mereka bertiga berhasil dikalahkan. Tapi ternyata Tamus, Fala-Tara-Tana IV, dan
Sekretaris Dewan Kota tidak ada apa-apanya dibandingkan penjahat yang datang
selanjutnya. Dia yang telah terkurung selama dua ribu tahun di penjara terkuat
di dunia paralel. Yang namanya selalu muncul dalam setiap petualangan dan
membuat bergidik bagi orang-orang yang mendengarnya. Yang kebangkitannya telah
dicegah oleh Raib, Seli, dan Ali di sepanjang petualangan mereka. Meski
ironisnya, di akhir kisah justru merekalah yang membebaskannya.
Dialah si Tanpa Mahkota.
Buku Ceros dan Batozar, Komet, dan Komet Minor ini
akan menceritakan tentang kelanjutan petualangan Raib, Seli, dan Ali untuk
mencegah si Tanpa Mahkota yang berambisi menjadi petarung terhebat untuk
menguasai dunia paralel. Dalam perjalanannya, ketiga tokoh utama kita akan
bertemu sekutu hebat. Ceros, si kembar dari Klan Aldebaran yang dapat berubah
menjadi monster humanoid badak
raksasa. Batozar, seorang buronan dari Klan Bulan yang menguasai teknik hebat
bernama perfettu.
Si Tanpa Mahkota sendiri juga bersekutu dengan Tamus
dan Fala-Tara-Tana IV serta pasukan gabungannya dari Klan Bulan dan Klan
Matahari. Ia diketahui sedang mencari pusaka terhebat di seluruh dunia paralel
yang dikabarkan berada di Klan Komet Minor. Dan untuk menuju klan ini, si Tanpa
Mahkota harus menghadapi ujian di Klan Komet. Maka berangkatlah ia kesana.
Dengan berbekal kenekatannya, Ali ikut melompat masuk
ke dalam portal yang membawa si Tanpa Mahkota menuju Klan Komet. Raib dan Seli
pun mau tak mau ikut menyusul mereka.
Klan Komet adalah sebuah klan yang
berbeda dari klan-klan lain yang pernah dikunjungi oleh Raib, Seli, dan Ali.
Klan Komet adalah sebuah kepulauan, terdiri atas pulau-pulau yang dinamai
sesuai nama hari. Pulau Hari Senin hingga Pulau Hari Minggu. Dengan dibantu Max
si pelaut, ketiga sahabat ini mengarungi lautan Kepulauan Komet yang ganas,
pergi dari satu pulau ke pulau lainnya untuk menuju Pulau Hari Minggu dimana portal
menuju Klan Komet Minor berada. Tapi saat mereka sampai disana, setelah
menyelesaikan satu demi satu ujian sepanjang perjalanan yang melelahkan, saat
portal menuju Klan Komet Minor akan terbuka, saat itulah Max mengkhianati
mereka dan membuka kedok aslinya sebagai si Tanpa Mahkota.
Jujur saja, novel Komet bukanlah
buku favorit saya sepanjang serial Bumi. Alur ceritanya terkesan datar dan hanya
diulang-ulang saja. Ceritanya juga mudah ditebak. Sejak awal kemunculan Max saya
bahkan bisa menebak bahwa dia adalah si Tanpa Mahkota. Dan juga, saya merasa ada
yang berubah dari gaya Bahasa Tere Liye dalam menyampaikan ceritanya. Raib
sebagai tokoh utama justru tidak terlalu menonjol disini. Sebagai gantinya
malah Ali yang lebih banyak mengambil peran.
Berkat Ali pula mereka berhasil meloloskan diri dari
si Tanpa Mahkota dengan memanggil Batozar dan kabur ke Klan Komet Minor.
Di Klan Komet Minor, Raib, Seli, dan Ali harus beradu
cepat mencari benda pusaka yang diincar oleh si Tanpa Mahkota. Benda pusaka itu
berupa sebuah tombak, terpecah menjadi tiga bagian yang tersembunyi di berbagai
tempat di Komet Minor dan dijaga oleh Para Pemburu, orang-orang terkuat yang
menjaga keseimbangan dunia paralel pada zaman-zaman keemasan klan ini.
Ada yang berbeda pada petualangan kali ini. Karena ada
Batozar. Disini Batozar berperan sebagai guru sekaligus penjaga bagi ketiga
tokoh utama kita. Kehadiran Batozar juga sedikit banyak mengusir ketegangan
yang ada karena sifat santai dan humorisnya. Meski kadang-kadang Batozar suka
sok mengatur-ngatur dan membuat Ali menekuk mulutnya karena sebal.
Kisah petualangan di Komet Minor mungkin menjadi petualangan
paling “keras” yang pernah dialami oleh Raib, Seli, dan Ali. Berkali-kali
mereka dikalahkan si Tanpa Mahkota, berkali-kali pula mereka berhasil bangkit
dan melanjutkan perjalanan. Semuanya demi mencegah bencana besar yang mengancam
dunia paralel.
Singkat cerita, mereka benar-benar hampir kalah saat
si Tanpa Mahkota berhasil merebut keseluruhan potongan tombak dan
menggabungkannya menjadi senjata utuh. Raib, Seli, dan Ali sudah kehabisan
tenaga mereka. Juga beberapa tokoh lain yang ikut dalam pertarungan melawan si
Tanpa Mahkota.
Tapi lagi-lagi Ali membuat kejutan di akhir. Ia
diam-diam sudah merencanakan sejak awal untuk menukar potongan tombak asli
dengan yang palsu. Dan pada akhirnya Ali menggunakan kekuatan tombak yang asli
itu untuk mengalahkan si Tanpa Mahkota.
Si Tanpa Mahkota kalah. Pertarungan selesai. Sempat
terbesit ide di kepala Ali untuk membunuh si Tanpa Mahkota, tapi Raib punya ide
yang lebih baik. Ia mengusulkan untuk menyerahkan si Tanpa Mahkota kepada si kembar
Ceros, itu akan lebih baik. Maka diambillah keputusan. Si Tanpa Mahkota dibawa
ke tempat Ceros berada, dan berakhirlah petualangan mereka.
Kisah Raib, Seli, dan Ali melawan si Tanpa Mahkota
berakhir disini.
Sekarang saatnya saya menyampaikan pendapat saya tentang
kisah ini. Ada dua hal yang membuat saya sedikit kecewa dengan ending-nya. Pertama, karena pertarunga
melawan si Tanpa Mahkota tidak berakhir dengan perang besar yang melibatkan
armada perang 3 klan sekaligus seperti yang saya bayangkan di awal-awal. Kedua,
bukan Raib yang menjadi “pahlawan” yang mengalahkan si Tanpa Mahkota secara
langsung, melainkan Ali—dan Finale, padahal ia adalah tokoh baru disini.
Bukannya saya tidak menyukai Ali atau apa, saya menyukai tokoh Ali yang jenius,
santai, dan sering membuat kejutan. Hanya saja, akan lebih baik jika Raib
sebagai tokoh utama memiliki peran yang lebih besar disini.
Meski begitu, pertarungan terakhirnya tetap saja seru
untuk dinikmati. Ada banyak sekali adegan-adegan pertarungan di ketiga buku
ini, dan seperti di buku-buku sebelumnya, Tere Liye selalu menggambarkan
pertarungannya dengan begitu detail. Namun masih tetap menggunakan bahasa yang
mudah dipahami sehingga kalimat-kalimat mengalir begitu saja. Tere Liye selalu
menemukan pemilihan kata yang tepat dan ringan sehingga aksi demi aksi terus
bermain di otak saya saat saya membacanya.
Disamping pertarungan, banyak juga adegan-adegan yang
menampilkan hubungan erat persahabatan Raib, Seli, dan Ali. Lagi-lagi Tere Liye amat
lihai dalam menyampaikan kalimatnya. Tere Liye berhasil menyampaikan perasaan
tiap-tiap tokohnya dengan baik kepada para pembaca sehingga pembaca dapat
dengan mudah larut ke dalam suasana dalam novel. Banyak sekali adegan mengharukan
tentang persahabatan mereka yang penuh dengan ketulusan dan pengorbanan.
Emosional. Ali yang rela mengorbankan dirinya agar teman-temannya bisa selamat
saat petualangan mereka menemui Ceros, Seli yang ikhlas dan tulus menemani
kedua sahabatnya saat di Klan Komet, dan Raib yang setia mendampingi Seli saat
masa-masa sakitnya di Klan Komet Minor. Dan masih banyak lagi adegan yang
menampilkan keakraban mereka di sepanjang kisah yang tidak mungkin ditulis
dalam satu artikel ini.
Tere Liye juga pintar dalam menyisipkan nilai-nilai
kehidupan di sepanjang cerita. Bagian favorit saya pada serial ini bahkan bukanlah
tentang pertarungannya, melainkan pada saat bagian Ali tampil pada acara talkshow di Klan Komet Minor. Saya
benar-benar terdiam merenungkan kalimat yang dikatakan oleh Ali tentang arti
keluarga. Lewat kalimat Ali, Tere Liye berhasil “menyindir” masyarakat masa
kini yang cenderung bersifat individualis dan memiliki ketergantungan akut
terhadap gadget, sehingga kita sering
melupakan orang-orang yang berada di sekitar kita, terutama keluarga kita
sendiri.
Untuk sedikit kritik, menurut saya Tere Liye masih kurang
mengeksploitasi kreatifitasnya dalam menulis dan mengembangkan ide cerita pada
serial Bumi ini. Alur dalam Komet dan Komet Minor, seperti kata saya sebelumnya,
terkesan diulang-ulang dan sama seperti pada ide buku-buku sebelumnya. Tere
Liye lebih banyak menggunakan ide tentang “mencari sesuatu” daripada
menggunakan ide yang lainnya dalam tiap-tiap novel Bumi. Akan menyenangkan
apabila Tere Liye menggali kreatifitasnya lebih dalam dan menyuguhkan ide
cerita yang sama sekali baru dari novel-novel Bumi sebelumnya. Seperti pada
Ceros & Batozar, cerita dalam buku ini lebih banyak menampilkan emosi antar
tokohnya secara dalam dan mendetail, dan menurut saya itu adalah sesuatu yang
bagus dalam serial ini.
Selain itu, serial Bumi masih menyisakan banyak
pertanyaan dalam kepala saya. Seperti hubungan Ali dan Si Tanpa Mahkota.
Sebenarnya menurut saya Tere Liye agak sedikit memaksakan di bagian ini. Fakta
baru yang disampaikan oleh si Tanpa Mahkota kepada Ali sebenarnya adalah
informasi yang cukup mengejutkan. Hanya saja, di dalam cerita menurut saya Tere
Liye menyampaikannya di waktu yang tidak tepat. Tere Liye menyampaikannya
secara sambil lalu tanpa ada kesan yang membuatnya spesial, justru seperti yang saya katakan di awal, terkesan dipaksakan.
Bukankah Ali keturunan Klan Aldebaran sedangkan si
Tanpa Mahkota dari Klan Bulan? Lalu jika Ali bisa menggunakan Sarung Tangan Bumi,
mengapa si Tanpa Mahkota tidak bisa?
Lalu dua pertanyaan lagi yang masih mengusik saya.
Pertama, mengapa buku kehidupan terkesan
dilupakan? Dan kedua, apa yang terjadi dengan buku kematian yang dipegang oleh Tamus?
Jelas Tere Liye masih berhutang banyak penjelasan kepada
para pembaca. Untungnya, Tere Liye masih belum berniat mengakhiri serial novel
ini. Hal ini disampaikan di penghujung novel Komet Minor yang mengumumkan tiga
judul buku baru untuk kelanjutan serial Bumi. Semoga ketiga buku ini dapat
menjawab banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Saya berharap banyak Tere
Liye akan menyuguhkan ide cerita yang jauh lebih hebat lagi dari buku-buku Bumi
sebelumnya.
Terakhir, untuk mengakhiri artikel ini saya ingin
menyampaikan bahwa 3 buku ini sekaligus seluruh novel Bumi karangan Tere Liye
adalah suatu karya yang menakjubkan. Saya berterima kasih kepada Tere Liye yang
telah menghibur saya dan seluruh pembaca melalui cerita ini. Serial novel Bumi ini
banyak mengajarkan tentang persahabatan yang tulus dan nilai-nilai kebaikan. Karena
sejatinya, itulah kekuatan terhebat di dunia paralel!